Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Ambisi Messi dan Revolusi Aturan Piala Dunia

Miami ;Bintang Argentina kejar trofi kedua di tengah penerapan aturan baru percepatan durasi pertandingan.

Kapten tim nasional Argentina, Lionel Messi (Foto: ESPN)

Kapten tim nasional Argentina, Lionel Messi, secara resmi memulai kampanye tahun 2026 dengan target besar: mempertahankan takhta juara dunia. 

Di tengah persiapan menuju turnamen akbar di Amerika Utara tersebut, badan pengatur hukum sepak bola internasional (IFAB) bersiap memperkenalkan serangkaian aturan revolusioner guna meningkatkan tempo permainan.

Messi, yang kini berusia 38 tahun, mengawali musim kompetisi bersama Inter Miami di Major League Soccer (MLS). 

Meski harus menelan kekalahan 0-3 dari LAFC pada laga pembuka yang dihadiri 75.673 penonton di LA Coliseum, fokus sang megabintang tetap tertuju pada ambisi ganda bersama klub dan negara.

"Messi akan memimpin Argentina di Amerika Utara dalam upaya mempertahankan mahkota Piala Dunia FIFA, mengincar gelar kedua baginya dan yang keempat bagi negaranya dalam apa yang bisa menjadi turnamen terakhirnya," demikian laporan statistik yang dirilis oleh ESPN.

Revolusi Aturan "Lima Detik"

Sementara Messi bersiap di lapangan, IFAB dijadwalkan menyetujui perubahan besar dalam pertemuan tahunan di Wales. Langkah ini diambil menyusul keberhasilan aturan delapan detik bagi penjaga gawang yang diterapkan musim ini.

Beberapa poin krusial yang akan diuji coba meliputi:

• Countdown Lima Detik : Wasit berhak memulai hitungan mundur untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang jika pemain dianggap sengaja mengulur waktu.

• Sanksi Substitusi: Batas waktu 10 detik untuk proses pergantian pemain. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat mengakibatkan tim bermain dengan kekurangan satu pemain selama satu menit.

• Intervensi VAR : Perluasan wewenang VAR untuk memeriksa pemberian sepak pojok, kartu merah akibat kartu kuning kedua, serta koreksi kesalahan identitas pemberian kartu.

Langkah ini bertujuan untuk menjaga ritme pertandingan dan mengurangi beban waktu tambahan yang seringkali berdampak pada kesejahteraan pemain serta kenyamanan penyiaran.

Namun, setelah melakukan peninjauan, IOC menegaskan bahwa peran FIFA dalam pengembangan sepak bola di wilayah konflik sejalan dengan peran federasi olahraga internasional.

Memasuki tahun 2026, dunia sepak bola tidak hanya akan menyaksikan tarian terakhir para legenda seperti Messi di lapangan hijau, tetapi juga transformasi regulasi dan diplomasi yang akan menentukan arah masa depan olahraga paling populer di dunia ini.(*)

Hide Ads Show Ads