Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Terungkap Kejadian & Misteri Penyakit Ronaldo Nazario Sebelum Final Piala Dunia 1998

Prancis ; Saksi mata mengungkapkan bahwa Ronaldo mengalami kejang/konvulsi, tubuhnya menggeliat, dan ada busa di mulutnya, cukup untuk membuat rekan setimnya panik.
Ronaldo Luiz Nazario de Lima saat memperkuat Timnas Brasil di Piala Dunia 2002.

Pada 12 Juli 1998, dunia sepak bola tercengang ketika superstar Brasil, Ronaldo Luis Nazario de Lima, hampir tidak ikut bermain di final Piala Dunia 1998 antara Brasil dan tuan rumah Prancis di Stade de France, Saint-Denis.

Apa yang terjadi pada Ronaldo pada jam-jam menjelang pertandingan terbesar dalam sepak bola itu masih menjadi salah satu misteri paling membekas dalam sejarah turnamen ini. Peristiwa ini masih dibahas puluhan tahun kemudian.

Hari yang Menjadi Misteri

Pada jam makan siang pada hari final, Ronaldo tiba-tiba mengalami sesuatu yang serius di kamar hotelnya. Saksi mata mengungkapkan bahwa striker berusia 21 tahun itu mengalami kejang/konvulsi. Tubuhnya menggeliat, dan ada busa di mulutnya, cukup untuk membuat rekan setimnya panik. Bek Brasil Cesar Sampaio bahkan harus mencoba mencegahnya menggigit lidahnya sendiri sebelum dokter tiba.

Rekaman tim menunjukkan bahwa Ronaldo kemudian dibawa ke rumah sakit di Paris untuk tes medis lengkap. Sementara itu, saat tim Brasil menyerahkan susunan pemain awal, nama Ronaldo tidak ada dan digantikan penyerang lain, Edmundo. Kejadian ini membuat suasana di ruang ganti menjadi tegang dan penuh kecemasan.

Drama Pengembalian ke Tim

Entah bagaimana, hanya sekitar 40 menit sebelum kick-off, Ronaldo dinyatakan fit setelah pemeriksaan, dan namanya kembali masuk daftar pemain, menggantikan Edmundo.

Akan tetapi, performanya di lapangan tidak seperti yang biasa dia tampilkan. Ronaldo tampak lesu, tidak agresif seperti biasanya. Gayanya yang biasanya meliuk-liuk melewati pemain lawan tidak terlihat sama sekali. Brasil pun dikalahkan 0-3 oleh tuan rumah Prancis.

Berbagai Teori dan Spekulasi

Dikutip dari Sky Sports, selama bertahun-tahun, banyak spekulasi bermunculan mengenai apa yang sebenarnya terjadi:

Serangan epilepsi atau kejang medis yang nyata, tetapi tanpa penyebab pasti.
Kejang terkait tekanan mental atau gangguan emosional, diduga akibat beban besar menjadi tumpuan Brasil untuk meraih trofi Piala Dunia kelima.
Konspirasi sponsor besar seperti Nike yang diduga menekan agar Ronaldo tetap bermain di final sebagai ikon global (klasik, tapi tidak terbukti).
Media dan mantan pemain juga menggambarkan suasana pascakejadian sebagai “trauma kolektif” yang membayangi seluruh tim Brasil saat itu.

Kata Ronaldo Sendiri

Beberapa tahun kemudian, Ronaldo berbicara soal pengalaman itu, mencoba menghapus misteri yang masih membayanginya.

Dalam sebuah artikel yang dikutip media Inggris Sky Sports edisi 23 Agustus 2017, Ronaldo secara jelas mengungkapkan kenangannya tentang momen sebelum final.

“Pada Piala Dunia 1998, saya berusia 21 tahun. Kemudian, pada hari final, sesuatu terjadi yang tidak dapat saya jelaskan. Saya menjadi sangat, sangat sakit dan mengalami kejang di tempat tidur saya. Ketika dokter melakukan tes dan mengizinkan saya untuk bermain, saya bermain,” kata Sang Fenomena, julukannya.

Sedangkan dalam artikel FourFourTwo edisi 20 Maret 2020 yang mengupas kembali kejadian itu lewat versi Ronaldo, ia memberikan detail pengalaman pribadi saat menjelang final.

“Saya memutuskan untuk beristirahat setelah makan siang dan hal terakhir yang saya ingat adalah pergi tidur. Setelah itu, saya mengalami kejang. Semua pemeriksaan medis penting tidak menunjukkan adanya kelainan," ujarnya.

"Saya menghampiri pelatih (Mario) Zagallo di stadion dan berkata: ‘Saya baik-baik saja. Saya tidak merasakan apa pun. Ini hasil tesnya, semuanya baik-baik saja. Saya ingin bermain.’”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bahkan Ronaldo sendiri tidak pernah benar-benar mengetahui penyebab kejadian tersebut. Ia hanya tahu dirinya tiba-tiba sakit parah dan mengalami kejang, sebelum akhirnya dinyatakan layak bermain.(*)

Hide Ads Show Ads