Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Joshua Kushner, Investor di Balik Rencana FIFA

Zurich, Swis; FIFA berencana mendirikan anak perusahaan senilai 20 miliar dolar Amerika untuk mengonsolidasikan hak komersial Piala Dunia. 
Joshua Kushner, Investor di Balik Rencana FIFA
Joshua Kushner, Investor di Balik Rencana FIFA

Presiden FIFA Gianni Infantino telah mengungkapkan rencana untuk membentuk perusahaan baru yang bertanggung jawab atas pengelolaan komersial kompetisi-kompetisi utama organisasi tersebut, termasuk Piala Dunia. 

Perusahaan anak yang awalnya bernilai 20 miliar dolar Amerika Serikat (AS)—atau setara sekitar Rp362 triliun—ini dapat menjual sebagian kecil sahamnya kepada investor swasta untuk menggalang dana hingga 4,2 miliar dolar AS, sebuah usulan yang memicu reaksi keras dari sejumlah asosiasi sepak bola regional seperti UEFA dan Concacaf.

Perusahaan yang diberi nama FIFA Forward Enterprise (FFE) ini akan mengelola hak siar, sponsor, lisensi, penjualan tiket, serta operasional komersial turnamen yang diselenggarakan oleh entitas tersebut. 

Menurut FIFA, dana yang terkumpul akan digunakan untuk memperluas program pengembangan sepak bola di 211 federasi anggotanya. Usulan ini masih memerlukan persetujuan dari mayoritas asosiasi nasional dan Dewan FIFA.

Organisasi tersebut menegaskan bahwa mereka akan tetap memegang kendali penuh atas kalender pertandingan, kompetisi, serta segala keputusan terkait aspek olahraga dan regulasi. FIFA menyatakan bahwa investor hanya akan memiliki sebagian kecil saham tanpa wewenang dalam manajemen.

UEFA dan Concacaf Mengkritik Proposal FIFA

Respons UEFA sangat cepat. Dalam pernyataan resmi, Badan Sepak Bola Eropa tersebut menyatakan bahwa inisiatif tersebut “melanggar batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga sepak bola” dan menyatakan bahwa “jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk dinegosiasikan”. 

Mereka juga mengkritik kurangnya transparansi mengenai siapa yang akan mendapat keuntungan finansial dari operasi tersebut.

Kritik sekaligus protes tersebut dipastikan memperlebar jurang antara Infantino dan Presiden UEFA Aleksander Ceferin, yang sudah berbeda pendapat mengenai isu-isu seperti kalender internasional, Piala Dunia Antarklub, dan perluasan kompetisi yang diselenggarakan oleh FIFA.

Concacaf, konfederasi yang menaungi federasi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, pada hari Rabu (29/7/2026) bergabung dengan kelompok pihak yang menentang rencana FIFA untuk menjual saham komersial Piala Dunia kepada investor swasta. 

Dalam pernyataan yang dirilis kepada The Guardian, organisasi tersebut menyatakan bahwa mereka baru mengetahui usulan itu melalui pemberitaan media dan mengkritik cara penanganan proses tersebut, seraya menyebutnya kurang transparan serta tidak menghormati struktur tata kelola sepak bola.

Dalam pernyataannya, Concacaf menyatakan sangat prihatin dengan kurangnya prosedur yang semestinya dan menyayangkan bahwa rincian proyek tersebut diungkapkan kepada publik sebelum adanya diskusi dengan badan pengatur serta para pemangku kepentingan. 

Organisasi tersebut menambahkan bahwa para pemimpin sepak bola memiliki tanggung jawab untuk senantiasa bertindak demi kepentingan terbaik olahraga ini, dan bahwa keputusan sebesar itu harus mengikuti prinsip tata kelola yang baik, proses yang kokoh, serta visi jangka panjang.

Sikap ini patut dicatat karena Presiden Concacaf Victor Montagliani merupakan salah satu dari delapan Wakil Presiden FIFA dan berperan penting dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. 

Namun, menurut The Guardian, Montagliani tidak terlibat dalam diskusi mengenai proyek tersebut. Laporan itu juga menyebutkan bahwa wakil presiden organisasi lainnya, termasuk Debbie Hewitt—Presiden Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA)—juga tidak diberi informasi sebelumnya.

Siapakah Joshua Kushner?

Menurut The Guardian, FIFA sudah bekerja sama dengan bank asal AS, JPMorgan Chase & Co, untuk menyusun operasi tersebut dan dilaporkan telah memilih perusahaan dari negara yang sama, Thrive Eternal, untuk memimpin kelompok investor. 

Thrive Eternal adalah sebuah wadah investasi yang dibentuk oleh Thrive Capital—perusahaan yang didirikan oleh pengusaha AS, Joshua Kushner (41 tahun). Perusahaan ini sebelumnya telah berinvestasi pada raksasa teknologi seperti Instagram, Spotify, dan Slack, serta memiliki saham di berbagai waralaba olahraga. 

Joshua Kushner adalah saudara laki-laki Jared Kushner, seorang pengusaha yang menikah dengan Ivanka Trump, putri Presiden AS Donald Trump. 

Terlepas dari hubungan kekeluargaan tersebut, Joshua memiliki rekam jejak pandangan politik yang berbeda dari saudaranya serta pernah menyatakan penentangannya terhadap Trump dalam pemilihan umum sebelumnya.

Namun begitu, menurut FIFA, Jared Kushner tidak termasuk dalam kelompok investor untuk operasi ini. Organisasi tersebut melaporkan bahwa Thrive Eternal akan memimpin konsorsium internasional yang terdiri dari para investor jangka panjang, sementara JPMorgan Chase & Co. akan bertindak sebagai penasihat keuangan dalam penyusunan struktur kesepakatan tersebut.

The Guardian juga melaporkan bila 211 asosiasi nasional yang berafiliasi dengan FIFA diberi waktu hingga 19 September untuk menyetujui model yang diusulkan. Jika mereka setuju untuk berpartisipasi dalam operasi tersebut, masing-masing dapat menerima pembayaran awal sekitar 20 juta dolar AS, dengan pencairan dijadwalkan pada 1 Januari 2027.

Hubungan dengan Trump Kembali Jadi Sorotan

Meskipun Donald Trump tidak terlibat langsung dalam operasi tersebut, proyek ini telah memicu kembali diskusi mengenai hubungan erat antara Presiden AS itu dan Gianni Infantino—hubungan yang semakin menguat selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko. Kaitan kekeluargaan antara Joshua dan Jared Kushner juga turut memperluas perdebatan politik seputar usulan ini.

Infantino menyatakan bahwa pembentukan perusahaan baru ini akan memungkinkan peningkatan alokasi sumber daya untuk pengembangan sepak bola secara global, sehingga mendongkrak investasi FIFA hingga melampaui angka 10 miliar dolar AS pada siklus-siklus mendatang. 

Namun, pihak-pihak yang kritis mengkhawatirkan bahwa masuknya modal swasta akan memperbesar pengaruh kepentingan komersial terhadap keputusan-keputusan penting yang menyangkut olahraga ini.(*)

Hide Ads Show Ads