Thomas Tuchel Tetap Tangani Inggris hingga Piala Eropa 2028
Inggris: CEO FA, Mark Bullingham, menilai tidak ada alasan untuk mengakhiri kerja sama lebih cepat karena Inggris telah menunjukkan perkembangan selama turnamen.
Kekalahan menyakitkan dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 tidak mengubah keputusan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) terhadap masa depan Thomas Tuchel. Federasi memastikan pelatih asal Jerman itu tetap dipercaya memimpin Timnas Inggris hingga berakhirnya kontraknya pada Piala Eropa 2028.
Keputusan tersebut sekaligus meredam spekulasi mengenai kemungkinan pemecatan Tuchel setelah Inggris gagal melangkah ke final. Dukungan penuh dari petinggi FA menunjukkan bahwa pencapaian The Three Lions sepanjang turnamen masih dinilai positif, meski impian merebut gelar juara dunia kembali harus pupus.
Pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano, menjadi salah satu pihak pertama yang mengabarkan kepastian tersebut melalui media sosialnya. Laporan itu kemudian diperkuat oleh BBC yang menyebut FA tetap memberikan dukungan penuh kepada mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munchen tersebut.
Romano mengungkapkan bahwa FA memang menginginkan Tuchel tetap melanjutkan pekerjaannya bersama tim nasional.
"Asosiasi Sepak Bola Inggris ingin Thomas Tuchel bertahan. Dia akan tetap memimpin tim nasional Inggris hingga Euro berikutnya," demikian pernyataan Romano di akun resminya yang diunggah Jumat (17/7/2026).
Sementara itu, Tuchel sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk meninggalkan jabatan tersebut.
"Saya akan tetap bertahan. Saya akan terus menjadi pelatih tim nasional Inggris. Kontrak saya berlaku hingga Juli 2028," kata Tuchel.
Inggris harus mengakhiri langkah mereka di semifinal setelah kalah 1-2 dari Argentina di Stadion Atlanta. The Three Lions sebenarnya sempat unggul lebih dahulu melalui gol Anthony Gordon. Namun, perubahan pendekatan permainan yang lebih defensif pada babak kedua justru menjadi bumerang.
Argentina berhasil menyamakan kedudukan lewat tendangan jarak jauh Enzo Fernandez sebelum Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan melalui sundulan pada masa injury time. Hasil itu mengantarkan Argentina ke final sekaligus mengubur harapan Inggris mengakhiri penantian panjang meraih trofi Piala Dunia.
Hujan Kritik kepada Tuchel Tak Membuat FA Bergeming
Selepas pertandingan, sejumlah kritik bermunculan terhadap keputusan taktis Tuchel. Legenda Inggris Wayne Rooney menjadi salah satu sosok yang paling vokal menilai perubahan strategi menjadi terlalu bertahan menjadi penyebab utama kekalahan.
Bahkan, sebagian pengamat menilai Tuchel tidak menunjukkan perbedaan berarti dibandingkan pendahulunya, Gareth Southgate, dan mulai mempertanyakan kelayakannya untuk tetap memimpin tim nasional.
Meski demikian, FA memilih mempertahankan kepercayaan kepada pelatih berusia 52 tahun tersebut. CEO FA, Mark Bullingham, menilai tidak ada alasan untuk mengakhiri kerja sama lebih cepat karena Inggris telah menunjukkan perkembangan selama turnamen.
Bullingham memberikan apresiasi kepada seluruh anggota tim yang dinilainya telah bekerja maksimal.
"Sangat menyakitkan bisa sedekat itu dengan kemenangan tetapi akhirnya gagal. Hari ini para pemain dan pelatih telah memberikan segalanya. Para pemain tim nasional, staf pelatih, dan seluruh staf pendukung tidak mungkin bekerja lebih keras lagi sepanjang turnamen ini," ujar Bullingham.
Evaluasi terhadap Tuchel Tetap Dilakukan
Tuchel mulai menangani Inggris pada Januari 2025 sebelum kemudian memperoleh perpanjangan kontrak pada Februari tahun yang sama. Sesuai kesepakatan, ia akan memimpin Inggris hingga Euro 2028 yang akan digelar di empat negara Britania Raya dan Irlandia, yakni Inggris, Wales, Skotlandia, dan Republik Irlandia.
Menurut laporan BBC, meski tersingkir di semifinal, perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 tetap akan dievaluasi secara internal sebagai pencapaian yang relatif berhasil. FA menilai fondasi tim masih cukup kuat untuk bersaing pada turnamen-turnamen besar berikutnya.
Sebelum menutup kiprah mereka di Piala Dunia 2026, Inggris masih harus menjalani pertandingan perebutan tempat ketiga menghadapi Prancis pada 19 Juli. Les Bleus juga datang dengan kekecewaan setelah dikalahkan Spanyol 0-2 di semifinal, sehingga laga tersebut diprediksi berlangsung sengit sebagai penutup perjalanan kedua tim di turnamen ini.(*)
