Setelah 30 Tahun Absen, Rwanda Siap Bawa F1 Kembali ke Benua Afrika
RWANDA,–Peta balap dunia bersiap mengalami perubahan besar. Setelah lebih dari 30 tahun absen dari benua Afrika, ajang Formula 1 dikabarkan akan kembali melalui penjajakan serius bersama Pemerintah Rwanda.
Pemerintah Rwanda dan Formula 1 saat ini tengah mengintensifkan pembahasan untuk membawa kembali balapan jet darat ke Benua Afrika. Langkah ini menjadi sorotan karena Afrika menjadi satu-satunya benua besar yang belum memiliki agenda resmi Grand Prix.
Padahal, sejarah F1 di Afrika bukanlah hal baru. Sirkuit Kyalami di Afrika Selatan dahulu sempat menjadi pembuka musim yang ikonik dan sangat populer di kalangan pebalap dan tim, sebelum akhirnya terhenti sejak dekade 1990-an.
Mantan pebalap F1 yang kini menjadi pengamat, Martin Brundle, menilai ketimpangan ini sangat ironis.
"Ketika melihat peta dunia, sangat ironis melihat benua seluas Afrika tidak memiliki gelaran Grand Prix sendiri," ujar Brundle, sebagaimana dilansir Sky Sports, Sabtu (17/10/2026).
Ia mengenang atmosfer Kyalami yang sangat krusial. "Pada masa itu, atmosfer kompetisi di Afrika Selatan sangat krusial dan populer. Para pebalap dan staf tim dapat berinteraksi secara dekat usai menjalani sesi uji coba pramusim yang ketat," tutur Brundle.
Kini, langkah Rwanda untuk merancang sirkuit baru dan mengajukan diri sebagai tuan rumah dinilai sebagai momentum penting. Jika negosiasi berjalan lancar, ini tidak hanya mengakhiri penantian panjang Afrika, tetapi juga menandai babak baru pemerataan olahraga global.
Akankah Rwanda benar-benar menjadi negara Afrika yang kembali menggelar F1 setelah Afrika Selatan? Publik dunia menunggu.(*)
