Final Piala Dunia 1954: Kisah Fenomenal Wunder von Bern
Swis:Hingga kini, lebih dari enam dekade kemudian, malam hujan di Bern itu tetap bersinar dalam ingatan dunia.
Dalam sejarah sepak bola, ada beberapa pertandingan yang bersinar lebih terang dari malam berlampu di Wembley. Ini bukan sekadar laga, tapi momen di mana yang mustahil menjadi nyata dan salah satu kisah paling gemilang adalah Wunder von Bern yang artinya Keajaiban di Bern.
Pada hari itu tepatnya 4 Juli 1954, memasang taruhan untuk kemenangan Jerman Barat di Piala Dunia 1954 akan dianggap tidak waras. Perumpamaannya seperti bertaruh hujan di tengah kemarau panjang.
Hungaria, raksasa yang tak terkalahkan sejak 1950, bukan sekadar bermain, mereka seperti orkestra di atas lapangan. Tim ini yang menjadi inspirasi setiap anak yang bermain bola di halaman sekolah pada zaman itu.
Sementara di sisi lain, ada Jerman Barat, tim yang secara teori tidak banyak diunggulkan. Mayoritas pemainnya masih amatir karena belum ada liga profesional di negara tersebut.
Jerman Barat seperti band pembuka yang ditonton dengan minat ringan sebelum bintang utama naik ke panggung. Tapi kali ini, band pembuka itu justru mencuri perhatian seluruh stadion.
Lebih dari 62.000 penonton memadati Stadion Wankdorf di Bern, masing-masing mungkin mengharapkan kemenangan rutin bagi Hungaria. Suasana tegang, bukan hanya karena hujan yang menggantung, tetapi juga karena antisipasi yang membuncah.
Jerman Barat yang akhirnya menjuarai Piala Dunia 1954 adalah tim amatir yang banyak dianggap remeh oleh para pakar. Mereka berasal dari berbagai penjuru Jerman, bahkan banyak dari kelas pekerja.
Pelatihnya, Sepp Herberger, mantan pemain yang sudah menangani tim nasional sejak 1936, dikenal disiplin sekaligus cerdik secara taktik. Ia mampu membuat pemainnya percaya diri dan bermain sebagai tim.
Kapten Jerman Barat, Fritz Walter dari 1. FC Kaiserslautern, adalah gelandang cerdas dan pemimpin yang mampu memotivasi rekan-rekannya tetap fokus. Pemain kunci lain termasuk Helmut Rahn, Max Morlock, dan Toni Turek. Rahn mencetak gol kemenangan di final, Morlock terkenal dengan tembakan kuatnya, sementara Turek melakukan beberapa penyelamatan krusial.
Bayangkan berada di stadion itu, baru 8 menit laga berjalan, melihat Hungaria sudah unggul 2-0 melalui Ferenc Puskas dan Zoltan Czibor. Penonton yang hadir menepuk bahu temannya dan berkata, “Tadi kan aku bilang!” Tapi sepak bola, seperti yang sudah kita rasakan, tak pernah bisa diprediksi. Tepat saat desas-desus sesuai prediksi muncul, sepak bola mengejutkan dunia.
Hanya saja, sepuluh menit kemudian skor menjadi imbang. Jerman Barat menyamakan kedudukan melalui Max Morlock dan Helmut Rahn. Ini bukan kebetulan; ini adalah tanda akan datangnya sesuatu yang lebih besar.
Babak kedua tetap menegangkan. Hungaria menyerang habis-habisan, tapi ketangguhan fisik Jerman Barat dan beberapa penyelamatan ajaib Toni Turek dalam menahan gempuran. Lalu, menit ke-84, sejarah tercipta. Helmut Rahn melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang bersarang di gawang Hungaria.
Stadion meledak. Tim yang dianggap underdog, Jerman Barat, melakukan hal yang tampak mustahil. Penonton di stadion, di radio, maupun TV, tak percaya. Hungaria, raksasa sepak bola saat itu, dikalahkan!
Kemenangan ini bukan sekadar trofi, bagi Jerman Barat yang tengah pulih usai Perang Dunia II, ini soal kebanggaan nasional. “Wunder von Bern” menjadi simbol harapan, ketangguhan, dan keajaiban sepak bola yang tak pernah bisa diprediksi.
Hingga kini, lebih dari enam dekade kemudian, malam hujan di Bern itu tetap bersinar dalam ingatan dunia. Sebuah pengingat abadi bahwa dalam sepak bola, seperti dalam hidup, segala kemungkinan masih terbuka, dan keajaiban bisa terjadi saat kita paling tidak menduganya.(*)
