Jepang Harus Atasi Beberapa Masalah Jelang Piala Dunia 2026
00:00
00:00
Jepang: Sejumlah masalah serius tengah menaungi Timnas Jepang yang harus sudah bisa diselesaikan sebelum turun di Piala Dunia 2026.
![]() |
| Starting XI Jepang berbaris untuk sesi foto sebelum pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia Grup C menghadapi Arab Saudi di Saitama, Jepang, pada 25 Maret 2025. (Xinhua/Jia Haocheng) |
Tim nasional Jepang menjadi salah satu skuad sepak bola paling konsisten di Asia. Bagaimana tidak? Sejak bangkit pada awal 1990-an, Samurai Blue tidak pernah absen di Piala Dunia sejak debut pada 1998.
Turnamen sepak bola terbesar sejagat yang tahun ini – mulai 11 Juni sampai 19 Juli 2026 – akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Inggris, menjadi keikutsertaan kedelapan Jepang secara beruntun di Piala Dunia.
Seiring persiapan menjelang Piala Dunia 2026 yang tinggal 121 hari lagi, Timnas Jepang memasuki ajang tersebut dengan optimisme namun tetap berhati-hati.
Hasil dari laga-laga persahabatan mereka baru-baru ini cukup menggembirakan, termasuk kemenangan bersejarah atas raksasa dunia Brasil, 3-2, pada bulan Oktober.
Jepang kemudian meraih kemenangan mudah atas sesama negara yang akan berlaga di Piala Dunia 2026, Gana (2-0), serta Bolivia (3-0) yang akan tampil di play-off pada bulan Maret.
Kendati dalam rangakaian pertandingan persahabatan itu Jepang juga ditahan Meksiko (0-0) dan Paraguai (2-2) serta kalah dari AS (0-2), hasil-hasil di tiga pertandingan terakhir (melawan Brasil, Gana, dan Bolivia) menepis keraguan tentang kemajuan mereka.
Kendati begitu, ada sejumlah masalah yang harus diatasi tim kepelatihan Jepang yang dipimpin Hajime Moriyasu sebelum turun menghadapi Belanda, Tunisia, dan satu negara hasil play-off Eropa di fase grup Piala Dunia nanti.
Pertahanan Stabil namun Ada Problem Struktural di Serangan
Secara taktik, Jepang memiliki rencana yang jelas dan terdefinisi di lini belakang, tetapi hal ini sangat kontras dengan formasi ofensif yang masih memiliki sejumlah tanda tanya.
Ketika tidak menguasai bola, para pemain Jepang berusaha untuk menekan secara agresif sebagai sebuah tim dan bertahan secara proaktif dari depan untuk menghambat permainan membangun serangan yang diupayakan lawan.
Ketika sebuah tim berhasil melewati tekanan tersebut, alih-alih kehilangan formasi dengan mengejar bola, mereka beralih ke blok kompak yang terorganisasi dengan sebanyak mungkin pemain di belakang bola.
Kemampuan untuk merespons secara fleksibel ini adalah salah satu dari serangkaian pencapaian mengesankan yang telah diraih oleh Moriyasu sebagai pelatih, selama masa kepemimpinannya yang panjang.
Namun begitu, di sisi lain masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan permainan menyerang tim. Meskipun mencoba memainkan bola dengan hati-hati dari belakang, Jepang kerap kesulitan untuk mengganggu formasi lawan dan serangan mereka sering kali gagal mencapai kohesi yang sempurna.
Ketika menguasai bola di sisi lapangan, pergerakan para pemain Jepang ke depan seringkali lambat. Seringnya kegagalan dalam serangan yang berujung pada diulangnya serangan menyebabkan formasi ofensif mereka secara bertahap memburuk.
Akibat situasi ini, peluang mencetak gol bergantung pada pengambilan keputusan individu dan pemain yang memaksa masuk melalui celah di lini pertahanan lawan daripada menembus pertahanan secara terorganisasi.
Meskipun demikian, kelemahan menyerang ini sebagian besar merupakan konsekuensi dari penekanan yang diberikan tim pada pertahanan. Bila mampu mengatasinya dengan sukses, ini akan menjadi peluang bagi Jepang untuk mencapai level berikutnya.
Fondasi utama yang perlu dibangun adalah kecepatan transisi antara serangan dan pertahanan. Jepang mampu bereaksi sangat cepat ketika kehilangan bola dan mendapatkan kembali inisiatif di area pertahanan lawan.
Secara khusus, kemampuan untuk beralih dengan cepat dari pertahanan ke serangan memberi mereka kekuatan untuk menembus pertahanan lawan dan menunjukkan potensi mereka untuk sukses di level tertinggi.
Kurangnya Striker yang Bisa Diandalkan dan Jadi Penentu
Di dalam Timnas Jepang saat ini ada Ayase Ueda, Shuto Machino, Keisuke Goto, dan Koki Ogawa yang memiliki posisi natural sebagai penyerang tengah alias striker. Namun, tidak satu pun dari mereka yang berstatus striker kelas dunia.
Bukan hanya kelas, tidak dari keempat nama di atas yang mampu menjadi penyerang tengah yang klinis dan mampu secara konsisten membuat perbedaan melawan tim-tim elite.
Krisis Cedera Bisa Pengaruhi Strategi dan Taktik Jepang
Cedera yang dialami sejumlah pilar inti seperti kiper utama Zion Suzuki, bek tengah Koki Machida, gelandang bertahan Ayumu Seko dan Koki Kumasaka, gelandang tengah Joel Chima Fujita, sayap kiri Takumi Minamino, sayap kanan Takefusa Kubo, dan striker Ayase Ueda.
Kendati bermain sebagai gelandang serang, Minamino terbukti paling produktif dengan torehan gol terbanyak di Timnas Jepang saat ini, 26 (dari 73 laga). Berikutnya ada nama Ueda dengan 16 gol dari 36 pertandingan bersama Jepang.
Badai cedera yang dialami para pemain pilar Jepang ini bisa mengganggu kedalaman tim. Cederanya pemain sepenting Minamino dan kiper Zion Suzuki telah menciptakan ketidakpastian dalam susunan pemain inti. Mengelola kebugaran dan beban pemain juga faktor yang sangat penting.
Belum pastinya posisi penjaga gawang menyusul cederanya Suzuki membuat persaingan ketat terjadi antara Tomoki Hayakawa, Leo Kokubo, dan Taishi Brandon Nozawa untuk mengamankan posisi starter.
Kendati memiliki fondasi yang solid, Jepang harus memastikan stabilitas lini pertahanan terutama dengan potensi perubahan di posisi penjaga gawang.
Dengan cedera yang dialami para pemain kunci, termasuk kekhawatiran jangka panjang terhadap Takehiro Tomiyasu, Moriyasu dan stafnya terpaksa mengelola kondisi dan beban kerja para pemain, serta menyeimbangkan pemilihan pemain berdasarkan hal tersebut.
Waktu pemulihan dan kembalinya pemain yang cedera ke dalam skuad akan berdampak besar pada pemilihan tim dan perencanaan skuad di masa mendatang.
Sisa Waktu Sekira Empat Bulan untuk Perbaikan
Sisa waktu sekira empat bulan sebelum turnamen akan lebih dari sekadar periode penyempurnaan bagi Jepang. Ini akan menjadi waktu yang krusial untuk memperkuat arah taktik tim dan menilai keseimbangan pemain yang tersedia.
Dua pertandingan persahabatan masing-masing di kandang Skotlandia (28 Maret) dan Inggris (31 Maret) – dua negara yang juga akan turun di Piala Dunia – akan menjadi barometer nyata bagi kemajuan Jepang.
Dengan menghadapi tim kelas atas di kandang lawan, Jepang akan memiliki kesempatan untuk menilai apakah soliditas pertahanan dan manajemen permainan mereka benar-benar sudah di level kelas dunia.
Siapa susunan pemain Jepang yang paling stabil? Siapa yang dapat diandalkan ketika tekanan meningkat? Pertandingan persahabatan mendatang akan memberikan gambaran yang sangat baik tentang pertanyaan-pertanyaan ini dan banyak lagi.(*)

Posting Komentar