Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar

00:00
00:00
Haiti; Haiti lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, tetapi belum memainkan pertandingan kandang sejak 2021 karena krisis geng. Kini, negara itu dikenai larangan perjalanan ke Amerika Serikat.

Pemain timnas sepak bola Haiti merayakan sukses lolos ke Piala Dunia 2026 yang sayangnya tidak bisa dirayakan menyusul kekacauan di negara itu sejak tewasnya Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021.

Malang benar nasib Tim Nasional Sepak Bola Haiti. Pada November 2025 lalu, Timnas Haiti berhasil memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026 usai memuncaki grup di kualifikasi zona Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).

Torehan itu sekaligus mengakhiri penantian beberapa generasi, hingga 50 tahun, sejak pertama kalinya mereka turun di Piala Dunia pada 1974 di Jerman Barat.

Bagi negara kepulauan berpenduduk sekitar 11 juta jiwa di wilayah Karibia, ini adalah momen yang banyak orang kira tidak akan pernah mereka saksikan lagi. Sayangnya, keberhasilan Haiti ke Piala Dunia 2026 ini tidak akan bisa disaksikan secara langsung oleh penggemar mereka.

Tergabung di Grup C, skuad yang dilatih oleh Sebastien Migne itu akan menjalani seluruh tiga pertandingan fase grup di wilayah Amerika Serikat (AS), dengan melawan Brasil, Skotlandia, dan Maroko.

Ironisnya, persiapan untuk menghadapi lawan-lawan berat di fase grup Piala Dunia itu tidak dilakukan Haiti di rumah mereka sendiri melainkan di AS. Pasalnya, negara mereka sedang dilanda krisis geng.

Pembunuhan terhadap Presiden Jovenel Moise pada 7 Juli 2021 membuat kondisi Haiti berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejumlah tindak kejahatan seperti penculikan, pembunuhan, pemerasan, dan kekerasan seksual, memaksa banyak orang untuk pergi meninggalkan negaranya itu.

Lebih dari 5.500 orang tewas dalam kekerasan terkait geng di Haiti pada tahun 2024. Geng bersenjata saat ini menguasai sekitar 85% wilayah Port-au-Prince, ibu kota Haiti.

Pelatih Sebastien Migne bahkan belum pernah menginjakkan kaki di pulau itu dan belum ada pemilihan umum sejak 2016.

Kementerian Luar Negeri menyarankan warga negaranya untuk tidak melakukan perjalanan ke Haiti. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan kekerasan oleh kelompok bersenjata telah memaksa 1,4 juta orang, atau 12% dari populasi, untuk meninggalkan rumah mereka. Adapun hampir enam juta orang kekurangan makanan.

“Situasi di Haiti sekarang sangat berbahaya,” kata penyerang Don Deedson Louicius, yang meninggalkan pulau itu pada usia 14 tahun untuk memulai kehidupan baru di AS dan mencetak empat gol penting dalam kualifikasi, seperti dikutip The Mirror.

“Saya masih memiliki teman dan keluarga di sana. Mereka terpaksa meninggalkan rumahnya. Lingkungan tempat saya dibesarkan, bahkan rumah lama saya, telah dibakar beberapa bulan lalu oleh anggota geng.

“Tadinya, setelah kualifikasi, Anda berharap bisa pulang dan merayakan bersama orang-orang. Sayangnya, kami belum memiliki kesempatan untuk melakukan itu.”

Mengapa AS Menerapkan Travel Ban terhadap Haiti?

Begitu Haiti memastikan lolos ke Piala Dunia 2026, terjadi kegembiraan yang meluas, dengan banyak orang turun ke jalan larut malam untuk pertama kalinya sejak 2021.

Sayangnya, keesokan harinya keadaan kembali seperti semula. Timnas Haiti bahkan belum dapat memainkan pertandingan di kandangnya sejak geng bersenjata mengambil alih kekosongan kekuasaan yang tercipta setelah kematian Moise.

Maskapai penerbangan AS menghentikan semua penerbangan ke Haiti setelah sebuah pesawat ditembaki oleh anggota geng pada tahun 2024.

Beberapa peluru mengenai pesawat Spirit Airlines saat hendak mendarat di ibu kota Port-au-Prince, dan melukai seorang pramugari hingga memaksa bandara untuk ditutup.

Larangan perjalanan (travel ban) yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump saat ini kemungkinan akan mencegah warga negara Haiti untuk menghadiri tiga pertandingan fase grup negara tersebut, dimulai melawan Skotlandia pada 13 Juni di Gillette Stadium, Foxborough, Boston, AS.

“Banyak orang khawatir tentang ini, tidak semua warga Haiti akan dapat pergi ke AS meskipun mereka menginginkannya,” ujar Louicius, yang orangtuanya pindah ke Orlando pada tahun 2021.

“Ini lebih besar dari sekadar sepak bola. Saya bukan politisi, tetapi setiap orang seharusnya memiliki pilihan untuk datang dan menonton.

“Setelah 52 tahun, semua orang ingin melihat pertandingan, sungguh disayangkan bahwa tidak semua orang akan memiliki kesempatan untuk melihatnya.”

Dengan kondisi yang dialami negaranya saat ini, Louicius, 24 tahun, juga sedih karena tidak banyak orang Haiti yang akan menyaksikan langsung dirinya tercatat dalam sejarah sepak bola negaranya ketika ia menghadapi Brasil di Philadelphia pada 19 Juni.

“Sangat menyenangkan bisa bermain di level ini. Masyarakat Haiti telah lama menunggu momen ini,” tutur penyerang yang kini turun di MLS bersama FC Dallas tersebut.

“Sejak saya menjadi bagian dari skuad, para pemain dari tahun 1974 selalu dibicarakan. Piala Dunia itu dibicarakan setiap hari sejak terjadi dan sekarang semua pemain saat ini sedang membuat sejarah. Mewujudkannya setelah 50 tahun adalah hal yang luar biasa.

“Semua orang di Haiti bersemangat, dan semua orang yang mencintai sepak bola di Haiti mencintai Brasil.”

Para Pemain Haiti Berharap Keadaan Negara Mereka Segera Berubah

Pertandingan ketiga Haiti akan dimainkan di Atlanta melawan Maroko pada 24 Juni. Ini akan melengkapi perjalanan luar biasa bagi Louicius dan keluarganya, setelah ia pindah ke kota itu sendirian saat masih remaja untuk mengejar mimpi menjadi pemain profesional.

“Saya meninggalkan Haiti saat berusia 14 tahun dan pindah ke Atlanta. Sekarang saya akan bermain di sana di Piala Dunia, saya tidak pernah membayangkan itu,” ucapnya.

“Akan ada banyak orang yang datang untuk menonton saya bermain jika mereka bisa mendapatkan tiket, beberapa teman dari sekolah, mantan rekan satu tim.

“Ayah saya juga punya teman yang dulu bermain di tim nasional Haiti. Ketika dia melihat saya bermain, dia mengatakan bisa pergi ke AS.”

Louicius akan mewujudkan mimpi pribadinya musim panas ini. Berharap sepak bola dapat menyatukan negara yang terpecah belah seperti Haiti mungkin tampak klise. Tetapi itulah harapan yang dipegang teguh oleh Louicius dan rekan-rekan setimnya.

“Harapan para pemain adalah agar keadaan berubah, kami berharap dapat membantu menciptakan negara yang berbeda,” katanya.(*)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar
  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar
  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar
  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar
  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar
  • Piala Dunia 2026: Haiti Tak Pernah Rayakan Sukses di Depan Penggemar

Posting Komentar