Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Alasan Pep Guardiola Tidak Dukung Spanyol di Piala Dunia 2026

Manchester, Inggris: Menurut Pep Guardiola, keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2026 bergantung pada dominasi Rodri di tengah, kreativitas Pedri, dan kemampuan Yamal menciptakan perbedaan di depan.

Mantan pelatih Manchester City, Pep Guardiola.
Mantan pelatih Manchester City, Pep Guardiola.

Pep Guardiola mengaku tidak memiliki satu tim nasional yang didukung secara mutlak di Piala Dunia 2026, termasuk negaranya, Spanyol. Mantan pelatih Manchester City itu justru memilih memberikan dukungan kepada tim-tim yang diperkuat pemain-pemain yang ia kagumi. 

Dalam pandangannya, Argentina, Portugal, dan Prancis menjadi negara yang paling menarik perhatiannya karena memiliki banyak pemain berkualitas yang disukainya.

Hal itu diungkapkan Guardiola dalam sebuah wawancara bersama OKX belum lama ini. Pelatih asal Catalunia tersebut juga berbicara mengenai kehidupannya setelah memutuskan meninggalkan Manchester City, rival terbesar sepanjang karier kepelatihannya, hingga peluang Spanyol menjadi juara dunia.

Guardiola mengakhiri lebih dari satu dekade kebersamaannya dengan Manchester City setelah mempersembahkan berbagai gelar bergengsi, baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Kini, pria berusia 55 tahun itu memilih mengambil jeda dari dunia kepelatihan untuk menikmati waktu bersama keluarga dan menjalani aktivitas baru di luar sepak bola.

"Saya mulai melatih pada usia 37 tahun di Barcelona dan sekarang saya berusia 56 tahun. Saya perlu melakukan hal-hal baru. Saat ini saya sangat bahagia," ujar Guardiola dikutip dari OKX.

Meski demikian, Guardiola menegaskan hubungannya dengan Manchester City belum benar-benar berakhir. Ia mengisyaratkan suatu saat akan kembali ke Stadion Etihad, meski bukan dalam waktu dekat.

"Suatu hari nanti, tentu saja saya akan kembali ke Etihad. Tetapi sekarang saya ingin berada di balik layar. Jika mereka membutuhkan saya, saya akan selalu ada."

Kepergian Guardiola membuat Manchester City memasuki era baru di bawah asuhan Enzo Maresca, yang kini memikul tugas berat mengembalikan kejayaan klub setelah musim terakhir yang dinilai mengecewakan.

Dalam wawancara tersebut, Guardiola juga mengenang persaingannya dengan mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp. Menurutnya, Klopp merupakan rival terberat sepanjang kariernya karena selalu mampu menghadirkan tantangan taktis yang luar biasa.

"Jurgen adalah rival terbesar dalam karier saya. Dia bisa mengubah sistem permainan setiap 20 menit. Itu membuat saya gila," kata Guardiola sambil memuji kemampuan pelatih asal Jerman tersebut.

Dukung Tim Piala Dunia 2026 yang Diperkuat Pemain Favorit

Berbicara mengenai Piala Dunia 2026, Pep Guardiola menegaskan dirinya tidak mendukung satu negara tertentu, termasuk Spanyol yang pernah diperkuatnya di era 1992-2001 saat masih menjadi gelandang. Ia lebih memilih mengikuti perjalanan tim-tim yang diperkuat pemain-pemain yang pernah dilatih atau sangat dikaguminya.

"Saya akan menikmati Piala Dunia karena ada banyak pemain yang saya kagumi. Saya selalu mendukung tim yang memiliki pemain yang saya sukai," ujar Guardiola.

"Kalau Argentina menjadi juara, ada pemain-pemain yang pernah bekerja bersama saya dan saya akan ikut bahagia. Begitu juga dengan Prancis. Portugal juga memiliki pemain-pemain yang sangat saya sukai dan saya menikmati hubungan dengan mereka."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Guardiola lebih menghargai kualitas individu para pemain dibanding sekadar fanatisme terhadap negara tertentu.

Trio Rodri, Pedri, dan Lamine Yamal Jadi Kunci Spanyol

Meski memberikan simpati kepada Argentina, Portugal, dan Prancis, Guardiola tetap menilai Spanyol memiliki peluang besar untuk mengangkat trofi Piala Dunia apabila mampu memaksimalkan potensi para pemain mudanya.

Menurut Guardiola, keberhasilan La Roja sangat bergantung pada dominasi Rodri di lini tengah, kreativitas Pedri, serta kemampuan Lamine Yamal menciptakan perbedaan di lini depan.

"Jika Rodri mampu menguasai lini tengah bersama Pedri, dan Lamine bisa tampil maksimal, maka Spanyol bisa membuat perbedaan," ujar Guardiola.

Rodri memang menjadi salah satu pemain yang paling mendapat pujian dari Guardiola selama beberapa tahun terakhir. Gelandang tersebut dinilai sebagai sosok yang mampu mengendalikan ritme permainan sekaligus menjadi pemimpin di lapangan. 

Sementara itu, Pedri dan Lamine Yamal dianggap sebagai representasi generasi baru sepak bola Spanyol yang memiliki kreativitas dan kualitas teknis luar biasa.

Selain membahas Piala Dunia, Guardiola juga mengungkapkan satu penyesalan dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih. Ia menyebut Neymar sebagai pemain yang masih menjadi "duri" dalam kariernya karena tidak pernah memiliki kesempatan bekerja sama dengannya dalam satu tim.

Meski kini tengah menikmati masa istirahat dari dunia kepelatihan, Guardiola memastikan dirinya belum benar-benar menutup lembaran sebagai pelatih. Sosok yang sukses bersama Barcelona, Bayern Muenchen, dan Manchester City itu membuka peluang kembali ke sepak bola pada masa mendatang setelah merasa siap menghadapi tantangan baru.(*)

Hide Ads Show Ads