Dari Goyang Pinggul Roger Milla hingga Tren TikTok Brasil, Tarian Menjadi Simbol Kebebasan di Lapangan Hijau
Karawang : Sepak bola bukan sekadar mencetak gol; ia adalah panggung ekspresi budaya dan emosi kolektif. Dalam sejarah panjang Piala Dunia FIFA, momen-momen ikonik sering kali tidak berhenti saat bola menyentuh jala, melainkan berlanjut di sudut lapangan melalui tarian para pemain yang merayakan kemenangan dengan gaya yang tak terlupakan.
Selebrasi "Let’s Dance" telah menjadi bahasa universal yang menyatukan penggemar dari berbagai belahan dunia. Berikut adalah catatan perjalanan tarian paling berkesan dalam sejarah turnamen empat tahunan tersebut:
Pionir Revolusi Selebrasi
Semuanya bermula pada tahun 1990 di Italia. Saat Kamerun menghadapi Kolombia di babak 16 besar, Roger Milla, yang kala itu berusia 38 tahun, mencetak gol pembuka yang krusial. Alih-alih berlari tanpa arah, ia menuju tiang korner dan menggoyangkan pinggulnya.
Momen ini dianggap sebagai titik balik dalam etika selebrasi. "Roger Milla merayakan gol dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun sebelumnya," ungkap sebuah pesan dalam kampanye global FIFA.
Tindakan tersebut seolah membebaskan para pemain untuk mengekspresikan kegembiraan secara kreatif, yang kemudian memicu tren "kegilaan" di mana penggemar dan pemain mulai melepaskan emosi mereka melalui tarian.
Ekspresi Identitas Bangsa
Selebrasi tarian sering kali menjadi representasi kebanggaan nasional. Pada pembukaan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Siphiwe Tshabalala mencetak gol pertama di tanah Afrika.
Gol tersebut disambut dengan koreografi "boogie" bersama rekan-rekan setimnya di Bafana Bafana, menciptakan kebisingan atmosferik di Soccer City yang tetap dikenang hingga hari ini.
Empat tahun kemudian di Brasil, Kolombia menunjukkan disiplin dan ritme melalui koreografi yang tertata rapi setelah sundulan James Rodriguez membobol gawang Pantai Gading.
Sementara itu, kapten Ghana, Asamoah Gyan, mengubah rumput hijau Stadion Castelao menjadi lantai disko setelah menaklukkan Manuel Neuer dalam laga sengit melawan Jerman.
Evolusi Digital: Dari Lapangan ke Viralitas
Memasuki era modern, pengaruh budaya populer semakin kental terlihat di lapangan. Di Qatar 2022, tim nasional Brasil yang diperkuat Vinicius Junior, Neymar, dan Raphinha membawa tarian Pagodão do Birimbola sebuah tren viral di TikTok ke hadapan jutaan penonton saat mereka menumbangkan Korea Selatan.
"Selebrasi gol telah berubah selamanya. Sejak saat itu (era Milla), para pemain merasa bebas untuk mengekspresikan diri," tulis ulasan resmi FIFA mengenai sejarah selebrasi dunia.
Dari langkah kaki Samuel Umtiti yang menginspirasi lagu hits di Prancis pada 2018, hingga tarian kolektif Paraguay di Cape Town 2010, setiap gerakan menceritakan kisah tentang keberanian, kegembiraan, dan persatuan dalam olahraga paling populer di planet ini.()


